JAKARTA, FRANCHISEGLOBAL.COM – Bisnis cuci mobil boleh dibilang memiliki prospek cerah di masa depan. Hal ini mengingat jumlah mobil di Indonesia terus bertambah. Dari data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) tercatat bahwa total mobil penumpang pada tahun 2018 mencapai 16.440.987 unit. Setidaknya, setiap tahunnya ada kenaikan jumlah mobil sebanyak 1 juta unit.

Melihat angka tersebut, tentu saja ini bisa memberikan keuntungan bagi sejumlah pihak. Salah satunya adalah para pelaku usaha cuci mobil. Peluang ini pun dimanfaatkan oleh Autoglaze untuk mengembangkan bisnis salon dan cuci mobilnya dengan membuka peluang kemitraan di tahun 2020 ini.

“Sejauh ini kita sudah punya 25 cabang. Dan itu punya kita semua, bukan punya mitra. Tapi di tahun ini, kita baru akan membuka peluang kerjasama dengan konsep kemitraan,” ujar salah satu marketing Autoglaze, Stephen Setyadi saat ditemui FRANCHISEGLOBAL.COM di pameran franchise di Jakarta akhir pekan lalu.

Menurut dia, modal yang dibutuhkan untuk membuka usaha salon dan cuci mobil ini sebesar Rp630 jutaan. Nilai tersebut untuk standarisasi yang dibangun di SPBU. “Mereka benar-benar sebagai investor. Karena bisnisnya itu kami yang kelola,” kata dia.

Karena sistemnya dikelola oleh pihak Autoglaze, maka mitra dikenakan manajemen fee sebesar 10% dari total omset yang didapat. Dimana perkiraan omset sendiri, lanjut Stephen, bisa mencapai Rp100 juta sampai Rp300 jutaan. Sementara estimasi balik modal bisa sampai 2 tahun.

“Tapi tergantung dan balik lagi dari lokasinya juga. Kalau lokasinya bagus bisa sampai segitu,” jelasnya.

Untuk dapat membuka satu outlet dibutuhkan luasan lokasi minimal 6x20 meter. Hingga akhir 2020 nanti, kata Stephen, Autoglaze menargetkan bisa menjalin kerjasama dengan 50 mitra bisnisnya.

“Strateginya, kita akan terus gencarkan kualitas yang kita tawarkan kepada calon investor,” tutupnya.