Sistem kerjasama ini cukup menarik. Dimana calon mitra cukup menyediakan tempatnya saja tanpa harus mengeluarkan biaya. Nantinya, Kimia Farma sendiri yang akan merenovasi dan mengoperasikannya.

“Nanti aset tersebut akan kita renovasi sesuai dengan standart tampilan Kimia Farma, baik interior maupun eksteriornya,” terang Manager Business & Market Development KFA, Muhammad Jasrif Teguh saat berbincang dengan Franchiseglobal.com di kantornya di kawasan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Selasa (3/7/2018) kemarin.

Muhammad mengatakan nantinya mitra akan mendapatkan keuntungan melalui sistem bagi hasil sebesar sebesar 3 persen dari omzet, diluar pajak untuk apotek. Selain itu, mitra juga akan mendapatkan bagi hasil utilisasi aset berupa sewa space untuk ATM sebesar 25 persen.

“Sistem KSO ini bisa perorangan atau bisa juga mitra institusi. Apakah itu perusahaan BUMN atau perusahaan swasta juga bisa. Biasanya sistem KSO ini disebut juga dengan franchise manage by Kimia Farma,” katanya.

Menurut Muhammad, dengan adanya sistem KSO ini bisa lebih memudahkan bagi kedua belah pihak baik Kimia Farma maupun masyarakat dengan mengoptimalkan aset yang mereka punya. Adapun syaratnya adalah selain lokasinya strategis, bangunan juga harus memiliki izin usaha.

“Daripada tidak terkelola dengan baik, itu bisa dikerjasamakan dengan Kimia Farma,” katanya.

Dengan adanya sistem KSO ini sekaligus menutup sistem kerjasama franchise murni yang mengharuskan calon mitra membayar royalty dan juga persyaratan lainnya.

Total secara keseluruhan apotek Kimia Farma sendiri sampai akhir 2017 lalu mencapai 1000-an cabang. Dimana untuk sistem KSO mencapai 30 sampai 40 persen atau sekitar 300 sampai 400-an cabang.

“Tahun ini kita rencananya akan buka 132 cabang. Kalau untuk KSO-nya sendiri sekitar 40 persen yaitu 50 sampai 60 cabang. Sisanya Kimia Farma sendiri yang kelola," tutup Muhammad. [ded]

Bagi Anda yang sedang berlibur atau melakukan perjalanan bisnis di kota Yogyakarta bisa melakukan rental mobil matic Jogja di CV. Atika Transport.